Diberdayakan oleh Blogger.
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Warungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warungan. Tampilkan semua postingan

Serba Empuk di Warung Koyor Marba

Written By tonitok on Rabu, 09 November 2011 | 13.02

Kota lama tak hanya memberi peninggalan berupa gedung kuno. Namun juga warung legendaris yang telah beroperasi sejak puluhan tahun silam. Adala warung Koyor Marba di depan gedung (bekas) CV Marba kawasan kota Lama. "Tidak tahu pastinya,  kalau tidak salah sekitar tahun 1950-an," ujar Ny Martini (47) pemilik warung.

Dia adalah anak kelima dari Mardono dan Ny Marlia, pendiri warung yang sering menjadi jujugan pejabat itu. Kala itu Mardono bekerja sebagai penjaga malam di CV Marba. Saat itu di kawasan kota lama terdapat beberapa pabrik. Di antaranya pabrik kertas, semen, dan kapuk. Banyaknya pekerja pabrik memantik naluri bisnis Marlia.

Belum tuntas menikmati bulan madu, dia membuka warung di samping kanan kantor suaminya. Berkat racikan yang sedap warung, yang menjual terik daging itu laris manis. Bukan hanya kuli-kuli, para bos-bos pun ketagihan menikmati otot sapi yang direbus hingga berbentuk mirip pasta itu.

Seiring waktu, pamor kota lama kian surut. CV Marba juga akhirnya bangkrut. Tetapi pamor Warung Koyor Marba tak memudar. Bahkan semakin fenomenal karena menjadi langganan pejabat dan karyawan BUMN di sekitar Semarang. “Karyawan Telkom, BNI, BRI, dan pejabat sering bersantap siang di warung ini,” cerita Ny Martini.

Perempuan berputra tiga itu tak asal ngecap. Warung kecil itu memang kerap dikunjungi penumpang bemobil. Bos-bos bertubuh subur ditemani sekretaris cantik dan wangi sering “kepergok” menghabiskan waktu di warung yang menggunakan bangku dari kayu itu.

Koyor Marba sangat lembut di lidah. Untuk menikmati otot sapi yang gurih itu bahkan tak perlu mengunyah. Cukup dicecap lidah untuk menikmati bubur daging yang klenyir-klenyir itu.

Satu porsi dijual dengan harga Rp 20.000. Koyor Marba mengadopsi konsep “menu seimbang”. Racikan menu terdiri nasi (karbohidrat), koyor (protein dan lemak), gudegyang diperkaya , sayur kacang, dan sambal terasi. Sebagai pelengkap bisa ditambahi ayam goreng atau suwiran daging.

Warung ini buka pukul 08.00 - 15.00 WIB. Tetapi jangan datang sore-sore agar tidak kehabisan. Maklum, warga Jalan Tambakharjo RT 04 RW 03 ini hanya menyediakan koyor sebanyak satu panci ukuran sedang. Maklum harga bahan baku relatif mahal. Dari satu ekor sapi hanya bisa diperoleh sekitar tiga kilogram otot yang merupakan bahan baku koyor. (panji).

Gudeg Bu Mending, Dimasak Minimal Dua Hari

Nya Vita Sobari dan karyawan menyajikan menu gudeg komplit.
Kangen masakan Jawa yang asli? Cobalah nasi Gudeg Bu Mending di Jalan Wolter Monginsidi Pedurungan. Nikmati menu gudeg komplit berupa nasi pulen, sayur gori (nangka muda), krecek, telur rebus, daging ayam, dan tahu. Pelengkapnya adalah daun singkong, kacang tolo, sambel petis dan kuah santan kental. Rasakan suwiran gori berwarna kecoklatan yang miroso. "Memasaknya butuh waktu minimal dua hari agar rasanya benar-benar gurih," ujar Ny H Vita Sobari pemilik warung.

Menurutnya, semakin lama dimasak akan semakin enak. Sebenarnya untuk memasak gudeg yang echo hanya butuh waktu sekitar dua jam. Satu jam pertama, untuk merebus nangka muda dalam air rendaman daun jati. Setelah itu dimasak menggunakan bumbu rempah selama satu jam. "Kemudian dipanaskan di atas wangwa (bara api) setidaknya dua hari. Kurang dari itu, kurang echo," jelasnya.

Keistimewaan gudeg Bu Mending adalah rasanya tidak eneg. Karena dia memasak menggunakan bumbu asli dan tidak menggunakan pengawet.

Warung yang berada di jalan alternatif Demak - Bangetayu itu sudah menjadi langganan instansi, kampus, dan perusahaan swasta. Jumlah pesanan juga tak tanggung-tanggung. "Kalau untuk acara-acara besar seperti wisuda atau penerimaan mahasiswa baru, jumlah pesanan sampai ribuan porsi," ujarnya.

Semula dia berjualan nasi gudeg di Pasar Yaik. Tepatnya di sebuah kios di depan Masjid Agung Kauman. "Saya berjualan di tempat itu sejak tahun 1983. Kala itu Pasar Yaik belum dibangun," ujar pemilik Minimarket Mending itu.

Sekitar dua tahun lalu dia pindah lokasi karena ingin berjualan dekat rumah. Sedangkan kios lama digunakan anak-anaknya. Nama "mending" berasal dari kosa kata Jawa yang berarti "lumayan." Maksudnya adalah rasa dari masakan yang disajikan bercita rasa lumayan. Tetapi jangan khawatir, rasanya bukan hanya mending, namun istimewa.

Harga satu porsi bervarasi. Nasi gudeg telur Rp 6.000, komplit Rp 7.500, dan gudeg opor Rp 9.000. Selain membuka warung dia juga menerima pesanan melalui telepon 6720841. (panji)

Kartu Antrean untuk Segelas Es Degan

Pak Jimin dikerubuti pembeli.
SEPERTI antre di puskesmas saja. Membeli es kelapa muda di warung Pak Jimin, Jalan Dokter Cipto harus menggunakan kartu antrean.

Urusan mengantre biasanya memang hanya terjadi pada saat bulan puasa. Maklum, pada bulan suci umat Islam itu, pembelinya membludak. "Sehari paling tidak habis dua ribu gelas," ujar Jimin (45), pemilik warung. "Makanya, kalau tidak memegang kartu antrean, tidak dilayani," cetus warga Kelurahan Bugangan Gang V/27, Kecamatan Semarang Timur, ini dengan mimik serius.

Di luar bulan Ramadan, warung yang juga menjual nasi kucing dan aneka gorengan ini tetap dikerubuti pengemarnya. Dalam sehari paling tidak dia menghabiskan 700 butir kelapa muda dan 75 kilogram gula pasir. Hebatnya, es degan sebanyak itu habis hanya beberapa saat setelah ashar.

Untuk melayani pelanggan, Pak Jimin dibantu tujuh karyawan. Warung ini buka sejak tahun 1983. "Dari dulu jualan di Jalan Dr Cipto. Cuma tempatnya saja yang geser-geser. Sekarang di depan dealer Tunas Jaya," jelas pria kelahiran Cepu ini.

Di antara deretan warung es kepala muda, warung ini memang yang paling fenomenal. Setiap waktu ramai dikerubuti pelanggan. Rahasianya, menurut Pak Jimin, karena menggunakan air kelapa murni. “Tidak menggunakan campuran air, sehingga rasanya pasti segar," bebernya.

Segelas es kelapa muda, dengan atau tanpa tape dihargai Rp 2.000 per gelas. Tanpa es lebih mahal lima ratus rupiah. Selain itu, warung ini menyediakan nasi kucing dan aneka gorengan seperti bakwan, timus, dan mendoan dengan harga murah meriah. Selain untuk melepas dahaga, warung ini juga cocok untuk tempat bersantap pagi atau siang. (panji)

Warung Pak Sangklak Kian Melegenda

Karyawan Pak Sangklak menyiapkan ikan bakar
Sejak 19 tahun lalu, warung pak Sangklak di Pantai Tanjung Mas masih "begitu-begitu" saja. Hanya bangunan sederhana dari papan dan anyaman bambu Jauh dari kesan sebagai resto mewah. Tempat parkir kendaraan pengunjung juga terkesan kurang representatif. Hanya padatan tanah dan pasir yang kadang becek tergenang air.

Tetapi jangan salah, aneka masakan seafoodnya benar-benar nendang di lidah. Tak heran, warung yang menyediakan aneka olahan makanan laut itu selalu disesaki pengunjung yang membawa mobil.

Menu yang disediakan adalah kepiting, udang, kerang, tiram, dan aneka ikan laut dan tawar, yang disajikan sesuai pesanan pelanggan. Tinggal pilih, dibakar  atau goreng. "Semua menu yang kami sajikan rasanya istimewa. Tapi yang menjadi favorit pengunjung sriping goreng atau bakar," jelas Ny Posinah pemilik warung.
Sriping (srimping) merupakan kerang dengan cangkang berbentuk mirip kipas, bulat tapi tipis. Dagingnya menggumpal seperti kerikil. Cara memasaknya dengan digoreng mentega atau dibakar.

Biasanya disajikan dalam cangkang. Tapi jangan khawatir, rumah kerang itu bisa dibuka secara gampang, dan akan lebih nyampleng jika di makan dengan menggunakan tangan. Setelah itu kita bisa menyantap dagingnya yang empuk dan gurih.

Meski harganya lumayan mahal, sekitar Rp 100.000 perkilo tak menyurutkan animo penyuka seafood. "Sehari bisa habis 40-50 kg srimping," jelasnya.

Harga di warung Pak Sangklak memang tidak dipatok secara tetap. Saat musim ikan, harga dipatok rendah. Maklum bahan baku mudah didapat.  Tapi saat musim baratan, apa boleh buat harga menu turut melambung. "Kecuali ikan harganya relatif tetap. Ikan laut Rp 70.000 per kg dan ikan tawar Rp 65.000 per kg," jelas istri (alm) Pak Sangklak ini. Adapun kepiting jantan sekitar Rp 70.000 per kg dan betina Rp 30.000 per ekor.

Pak sangklak sendiri telah meninggal dua tahun lalu. Tetapi legenda kelezatan menu seafood-nya tetap terjaga. Pengunjung terus berdatangan ke warung sederhana ini.

Memang, sang istri-lah yang menjadi kunci rahasia kelezatan masakannya. Sejak dahulu yang memasak yang Ny Posinah. Sedangkan Pak Sangklak tak bisa memasak. Dia hanya hobi memancing.

“Sejak dahulu suami saya hobi memancing. Dia sering diajak bos-bos dan orang kaya berburu ikan. Nah usai mancing, biasanya mampir ke warung saya. Lambat laun pelanggan semakin banyak,” jelasnya.

Kini warung Pak Sangklak memiliki cabang. Yang "asli" menempati lahan milik PT IPU di Pantai Tanah Mas. Sedangkan resto di Jalan Telaga Mas Raya milik adik dan anaknya. (panji, andik)
 

Sop Kaki Khas Betawi di Simpanglima

karyawan menyiapkan menu sop kaki kambing
Ingin menikmati sop kaki kambing khas Betawi yang gurih? Empuknya daging kaki dan segarnya kuah rebusan balung ini bisa dinikmati di deretan warung tenda kawasan simpanglima. Tepatnya di depan Supermarket Ramayana. Saya memilih warung milik Ibu Kusniati karena letaknya persis menghadap bundaran. Sembari makan bisa menikmati suasana malam di kawasan Simpanglima.

Pada siang hari, Simpanglima merupakan kawasan yang paling sibuk di kota Atlas ini. Namun pagi dinihari itu kawasan Simpanglima terlihat lengang. Hanya satu dua kendaraan melintas. sorotan lampu merkuri membuat lapangan Simpanglima itu terlihat temaram. Di tengah terpaan hawa dingin menusuk tulang, seporsi sop panas akan membuat tubuh terasa hangat.

Menikmati sop ini bisa dimulai dengan nyeruput kuahnya. Meski agak encer, namun rasanya lumayan nendang. "Rasa gurihnya berasal dari kaldu rebusan tulang sapi," jelas warga genuk Perbalan RT 05 RW 06 ini.

Aroma rempah justru tak terlampau kuat. Bumbu utama hanya pala, mrica, jahe, dan kayu manis. Cita rasanya cenderung manis dan segar. "Kuahnya tidak menggunakan santan, namun susu bubuk. Jadi terasa manis dan segar," lanjutnya.

Racikan menu berupa daging kaki atau kepala. Pengunjung bisa memilih dicampur bagian daging lain seperti jeroan, lidah, dan otak. Serpihan daging ini kemudian ditimbun dengan irisan kentang goreng, emping, serta minyak samin kemudian diguyur kuah sop yang segar. Sebagai pelengkap adalah acar, sambel cabe merah, kecap, dan  irisan jeruk limau. Aduk-aduk sebentar kemudian mulailah nyeruput kuahnya. Kenikmatan sop ini semakin terasa karena semua bagian daging sangat empuk digigit. Maklum sebelum disajikan, potongan kaki telah direbus selama tiga jam hingga potongan dagingya mengelupas. Serpihan daging ini kemudian diambil untuk disajikan menjadi bahan baku sop. Sedang tulang terus direbus untuk dibuat menjadi kuah.

Warung sop kaki biasanya buka sejak sore hingga pukul tiga dinihari. Menurut Ibu Kusniati, dia telah buka dasaran sejak Supermarket Ramayana masih berupa Bioskop Gajahmada.

Dulu warungnya menjadi jujugan pengunjung biskop, terutama yang menonton tayangan midnight. Kini pengunjung anak-anak muda yang ingin menikmati suasana malam Simpanglima.

Setiap hari tak kurang dari seratus porsi sop kaki ludes. Menu lain adalah sate kambing namun hanya merupakan pelengkap. Sayangnya hargan yang dipatok relatif mahal.  Meski rasa sopnya memang istimewa, namun merogoh kocek Rp 25.000 untuk makan di warung tenda  rasanya terlampau mahal. (panji)

Bongkar Kepala Ikan Pak Oeban

Karyawan Pak Oeban menyiapkan menu gulai kepala ikan
RASAKAN sensasi menjadi “montir kuliner” saat menikmati gulai kepala ikan di Warung Pak Oeban. Layaknya montir, Anda akan terlena oleh asyiknya ritual membongkar kepala ikan untuk mengambil daging bagian dalam. Jangan sungkan nyucup otak ikan yang kenyal menggunakan mulut. Rasanya jos.

Rasa gulai khas Bukittinggi ini memang istimewa. Menunya disajikan dalam tiga bagian terpisah, yakni sepiring nasi putih. Kemudian sepiring besar gulai kepala ikan lengkap dengan kuah santan kekuningan yang menggugah selera, serta semangkuk kecil sambal ijo dan rebusan daun pisang.

Cara menikmatinya agak unik. Mula-mula, kuah santan dan serpihan daging bagian luar diambil menggunakan sendok untuk disiramkan ke atas nasi. Kemudian disantap dalam keadaan panas. Nah setelah “makan resmi” usai, berikutnya adalah ritus membongkar kepala ikan dengan tangan untuk mengambil daging bagian dalam. Ritus inilah yang membuat pengunjung ketagihan. Saban hari tak kurang dari 500 pecinta kuliner menyempatkan diri menikmati gulai dengan harga murah meriah ini.

Gulai kepala ikan Pak Oeban memiliki citarasa pedas agak asam. Rasa pedas sesuai selera masakan padang. Maklum pemiliknya, Hj Kadarwati berasal dari Sumatera. Sedangkan rasa asam dipantik dari rebusan biji asam kandis.

Menurut Hj Kadar, menu kuliner istimewa itu menggunakan bumbu rempah rahasia khas Sumatera Barat. “Bumbunya dari rempah-rempah yang merupakan resep turun temurun leluhur saya,” ujar perempuan berkerudung ini

Konon, biji asam kandis dengan warna kecoklatan itu hanya tumbuh di Sumatera Barat. Di Pulau Jawa tidak ada, saya terpaksa membelinya secara khusus melalui seorang pemasok di Jakarta,” ujarnya.

Pengunjung sering mengira menu yang disajikan adalah kepala kakap. Namun sebenarnya merupakan blasteran antara kakap dengan nila. Ikan jenis baru ini dibudidayakan sebuah perusahaan perikanan di Semarang. “Bedanya, kalau ikan kakap asli tubuhnya lebih gempi. Sedangkan ikan jenis baru ini dagingnya lebih pulen,” ujarnya.

Warung yang berada dekat POM Bensin Jalan Pamularsih ini menyediakan beragam menu kepala ikan. Ada gulai, pindang, serta sop. Menu lain adalah ayam pop dan gulai ikan patin.

Pak Oeban adalah julukan suami Hj Kadarwati. “Suami saya kepalanya sudah memutih jadinya dipanggil Pak Oeban,” ujarnya,

Warung ini buka saban hari mulai pukul 10.00 hingga 16.00. Tak perlu khawatir merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati kuliner istimewa ini. Untuk menyantap seporsi gulai ikan plus nasi putih dan minuman dingin, Anda hanya perlu membayar Rp 10.000.

Meski termasuk warung tradisional, warung Pak Oeban menggunakan cara modern untuk berporomosi. Seakan tak mau kalah dari Presiden Amerika Serikat Barrack Obama yang berkampanye melalui facebook, warung ini juga berpromosi melalui situs jejaring sosial bikinan Mark Zuckerberg. “Yang  pernah mencicipi silakan berkomentar, yang belum silakan mampir,” demikian pesannya melalui internet. (nji/bow)

Sate Kambing Pak Suradi

Jika ingin menikmati gurihnya kuliner daging kambing "asli" Semarang, sambangi warung sate kambing Pak Suradi di Jalan Soekarno-Hatta 11 Pedurungan.  Warung yang menyediakan menu sate kambing, gule, tongseng, dan tengkleng ini layak dinisbatkan sebagai kuliner asli Semarang. Pasalnya, racikan bumbu dan cara masaknya merupakan hasil kreasi cah Semarang asli, yakni Pak Suradi.

"Racikan bumbunya asli kreasi suami saya puluhan tahun lalu. Bukan warisan atau mengambil dari buku," ujar ujar Ny Rohyati Suradi. Hingga sekarang komposisi bumbu tetap dipertahankan. "Sudah puluhan warung kami ramai pelanggan.  Semoga ini merupakan pertanda masakan kami sesuai selera Semarangan," imbuhnya.

Menu yang disajikan memang menggugah selera. Menu utama sate kambing muda nan empuk dengan bumbu kecap manis-pedas. Satu porsi berisi sembilan tusuk daging dan setusuk jeroan (jantung, hati dan ginjal). Penyuka masakan berkuah bisa memilih gule, tongseng, atau tengkleng.

Gule khas Suradi berupa potongan daging dengan kuah santan. Rasanya tak terlalu pedas, hanya dari ketumbar dan merica. Ingin rasa lebih nendhang, tengkleng balungan dengan bumbu kaldu bisa dijadikan pilihan.  Pilihan lain tongseng berupa potongan daging diperkaya sayur kol, selada, dan tomat.

Rahasia puluhan tahun warungnya tetap ramai pembeli karena selalu menjaga kualitas. "Banyak pelanggan datang bukan sekadar untuk makan, tapi juga klangenan. Ada yang nostalgia dulu waktu pacaran makan di warung saya sekarang sudah punya anak-cucu.'

Soal rasa, Ny Suradi mengatakan sesuai selera cah Semarangan yang suka manis. "Lidah Semarang menyukai rasa manis. Menu yang kami sediakan juga menyesuaikan. Tapi kalau ada yang minta pedas, kami layani."

Sensasi pedasnya memang tak terlalu kuat. Karena hanya mengandalkan tumbukan ketumbar dan merica. Cukup pedas tapi tak terlalu "membakar lidah. "Rasanya pedas-pedas-segar," ujar Pak Wanto warga Jalan Supriyadi yang sudah lama menjadi pelanggan setia.

Mengenai bumbu, pemilik warung mengatakan biasa saja. "Seperti warung lainnya, menggunakan bawang merah dan putih, ketumbar, merica, kemiri, sonokeling, dan kunir."

Tapi ada dua rahasia untuk menjaga kualitas rasa. Pertama, bahan baku masakan dipilih kambing yang benar-benar masih muda. "Suami saya yang memilih kambing. Dicari yang muda agar dagingnya empuk," ujarnya.

Kambing pilihan itu kemudian dipotongkan kepada seorang jagal di Mranggen Demak. Tapi yang netheli tetap Pak Suradi. Pasalnya teknik irisan harus pas, kalau salah motong daging menjadi alot.

Rahasia berikutnya adalah bumbu dihaluskan secara manual dengan cara diulek di atas cobek. Tidak menggunakan blender karena akan mengurangi rasa.

Komposisi bumbu tidak menggunakan patokan pasti. "Menggunakan perasaan saja, kalau rasanya kurang pas ditambahi bumbu lain."

Sate kambing ini merupakan yang tertua di Pedurungan. "Saya berjualan sate di sini sejak 22 tahun lalu. Dulu Jalan Arteri (Soekarno-Hatta) belum ada. Masih berupa jalan setapak," ujarnya.

 Saat itu hanya ada dua warung sate di Pedurungan. Milik Pak Dayat di Kabluk dan miliknya. Harga dipatok murah meriah. Satu porsi sate kambing hanya Rp 17.000. Tongseng dan gule Rp 10.000, adapun tengkleng Rp 8.000. Warung ini buka saban hari, pukul 08.00 WIB - 10.30 WIB. Setiap hari setidaknya menghabiskan satu ekor kambing. Setiap hari habis sekitar 300 tusuk sate. Serta tonseng, tengkleng, dan gule masing-masing 50 porsi. Dia juga  terima pesanan akikah melalui telepon 6720852. Harga bervariasi tergantung ukuran.(panji)

Rasa Nyamleng Gule Bustaman

Tak gampang mencari menu pembangkit selera. Kudapan yang biasanya favorit pun acap gagal membangunkan hasrat bersantap. Apalagi saat mata masih mengantuk, ditambah hembusan hawa dingin membuat kita sering memilih melanjutkan tidur dibanding mengisi perut untuk bekal puasa.

Apalagi variasi makanan pengisi sahur biasanya tak “seatraktif” menu berbuka. Semakin hilanglah selera untuk menjalankan sahur.

Nah jika menu lain tak kuasa membangkitkan selera, saatnya mencoba racikan gule bustaman khas Semarang. Tendangan rasa pedas di ujung lidah dari bumbu-bumbu rempah membuat mata dan tubuh seketika terjaga. Apalagi disantap dalam keadaan panas, rasa hangat di tengkuk akan membuang rasa malas. Sekujur tubuh berkeringat, meski di tengah jalaran dingin angin kemarau.

Tak jauh beda dengan gule lain, gule bustaman juga dibuat dengan bahan baku daging kambing. Yang membuat istimewa adalah racikan bumbunya khas Timur Tengah yang serba pedas. Sesuai dengan asal kelahiran menu istimewa ini, yakni di kampung pekojan Semarang.

Cecaplah kuah kaldunya, ujung lidah terasa semriwing berkat racikan rempah-rempah berupa kapulaga, adas, dan bahan lain khas negara asal negeri padang pasir. Keharuman rempah menciptakan aroma tersendiri, memupus bau prengus yang biasanya menyertai daging kambing.

Tak semua daging kambing dijadikan bahan baku. Hanya bagian-bagian kepala, lidah, telinga, dan bagian lain yang dimasak. Daging bagian kepala itu juga tidak dicemplungkan  ke dalam kuah tetapi diletakkan secara terpisah. Pembeli bisa memilih, kemudian dipotong-potong kecil dan disiram kuah.

Meski tak memakai santan, rasanya tetap gurih berkat taburan bubuk kelapa.  Rasa gurihnya diperkaya bumbu nusantara berupa kemiri, bawang merah, bawang putih, serai, gula jawa, serta daun karakele. Jika menyukai yang alami, cegahlah penjual menambahkan butiran penyedap rasa.

Warung gule bustaman gampang dijumpai di seantero Semarang. Di kawasan kota lama bisa ditemui di belakang gereja Blenduk, depan Kantor BNI Bubakan, samping kantor Dipenda dan Kantor Pos Besar. Juga dikawasan Jalan MT Haryono, Pasar Langgar, Pasar Kartini, Jalan Jalan Karangkojo dan Jalan Sendowo.      

Istilah “Bustaman” sendiri bukan dinisbatkan dari nama seseorang atau penemu gule khas ini. Bustaman merupakan nama kampung di ruas Jalan MT Haryono Semarang. Kampung ini merupakan “pemasok” daging kambing yang digunakan para penjual gule penggugah selera ini.

Pedagangnya juga tak melulu berasal dari kampung kecil itu. Siapapun boleh menggunakan “merek” bustaman asalkan membeli daging dari jagal asal kampung Bustaman. Sejak jaman kolonial, pemukiman itu merupakan sentra jual beli daging kambing.

Para bakul dari berbagai daerah biasa kulakan daging sebagai bahan baku masakan. Termasuk pedagang gule pikulan, yang lama kelamaan melahirkan istilah “gule bustaman”.

Nah, bagi yang belum sempat mencicipi, cobalah bersantap sahur dengan gule yang kini menjadi kuliner khas Kota Lunpia ini. Tapi hati-hati dengan kandungan lemak yang tinggi, terutama dari jeroan. Untuk menurunkan panas tubuh, imbangi dengan menu penutup berupa buah-buahan dan sayur seperti semangka, tomat, atau lalapan. (panji)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HARIAN SEMARANG - Info - All Rights Reserved
Template Created by Mas Fatoni Published by Tonitok
Proudly powered by Blogger